Rabu, 16 Mei 2012

sonic dan cs one


Perbedaan Spek Nova Sonic vs CS1

Well, blogwalking ke blognya Mas IwanBanaran, ketemu satu pencerahan tentang apa sih sebenernya perbedaan plek mesin Nova Sonic dengan CS1. Jujur EYD termasuk orang yang penasaran dengan performa mesin CS1, walau sudah puas dengan MX namun EYD penasaran banget dengan teriakan CS1 di RPM atas.

Jika MX memang diciptakan untuk akselerasi, maka CS1 ini diciptakan untuk mampu teriak hingga 1000 RPM, sementara MX hanya mampu berkitir sampai 8500rpm. Namun bagaimanakah sebenernya jeroan CS1 ini sehingga bisa sedikit unggul dari MX dalam hal top speed?
Cekidot komentar salah satu komentator di warung Mas Iwan
coba gw share yah bro
mesin cs1 dan sonic tu serupa/sebasis tp gak sama plek…klo ada yg bilang downgrade secara performa iya,,dimana letak downgrade nya :
1. kompresi => sonic kompresi 11,,sementara cs1 10,7 (agar mengakomodir bensin subsidi indonesia..at least mengurangi dampak knocking meskipun masi terasa di cs1)
2. derajat lifting noken as…lebih tinggi engine sonic => napas atas sonic lebih enteng,,sementara cs1 napas atasnya tidak segesit sonic,,namun sangat membantu torsi bawah cs1 yg kecil
3. diameter klep sama persis tp beda profil,,pada cs1 ada semacam takikan/jalur buang gas exhaust di ex klepnya…agar meningkatkan optimasi pembakaran namun secara material…klep cs1 (yg diproduksi federal nittan industries/grup astra juga) kalah kuat drpd punya sonic ori thailand…jadi relatif aman dan durable punya sonic ketika terus2an digeber pada redline
4. mapping cdi sedikit berbeda => mengakomodasi penurunan kompresi sonic
5. mesin cs1 dah ada engine balancer???
#dari poin2 diatas maka,,pengaruh ada di power yg menurun dari 13.5HP jadi 12.8HP
tapi secara emisi dll bisa dibilang lebih ramah lingkungan
selain itu ada faktor lain…misal berat kosong sonic dan cs1 jauh lebih berat sonic (apalagi fu yg lebih ringan dr sonic)..makanya secara umum cs1 kalah kencang ama fu
bro scootman membandingkan cs1 dan fu sepertinya gak apple to apple dalam performa..apalagi 125cc (downgrade sonic) lawan 150cc
tapi klo menilik kebelakang…sbelum satria 150 hadir….saat itu suzuki diwakili fu125/raide125r yg udah dohc juga…
tp overall di thailand sana raider 125 kalah dibandingkan oleh sonic (putaran atas konon)
omr thailand pun dikuasai sonic
power raider 125 adalah 13.3HP
secara handling dan performa banyak raider tahiland condong ke sonic berikut dengan tampilan sonic yg lebih manis
karena itulah akhirnya suzuki memunculkan ide gila tuk membungkam sonic dengan membenamkan engine 150cc dohc 16ps pada rangak bebek super ringan yg sangat fenomenal di asia tenggara tp tidak mendapat izin beredar di banyak negara karena faktor safety
jadi intinya cs1 jelas kalah performa ama yg agan scootman bilang..dan cs1 gak 100% sama performanya dengan sonic
tapi lebih tepatnya diadu ama mx,,dan rasanya dengan mx,,,performa cs1 lebih mumpuni dengan powwer yg lebih besar (power njmx 12,5ps) dan bobot yg lebih ringan meskipun kalah cc,,jumlah klep dan kompresi
cs1 hanya kalah di trek pendek saja dibanding mx krn torsi mx sadis dan overstroke
semoga jelas sharing ane :)
buat bang iwan boleh di CMIIW klo share ane ini ada yg salah/bisa ditambahkan

Hati-hati dengan penipu Odometer

Hati-hati dengan penipu Odometer

Hati-hati, disinyalir aksi mengurangi angka odomoeter kian marak. Ulah nakal penjual kendaraan ini memang sudah ada sejak dulu. Namun seiring perkembangan, aksinya juga kian pintar. Pasalnya, mobil sudah semakin canggih dengan odometer digital, tetapi bisa dimundurkan angkanya. Sialnya aksi ini justru lebih sulit diterka. Karena odometer digital tidak meninggalkan jejak kasat mata setelah dimundurkan.
Cepat Dan Tidak Mahal
Tidak pernah terbayangkan dalam be¬nak Rusli, sebut saja begitu, kalau pekerjaannya sebagai tukang servis elektronik dan spidometer mobil akan seramai ini. Padahal 5 tahun lalu, pria asal Bogor, Jabar ini sempat pesimis akan kelangsungan usahanya.
“Makin banyak mobil baru, apa masih ada yang spidometernya rusak. Lagian model manual sudah bergeser digital,” tambah pria yang mangkal di salah satu pusat onderdil mobil di Jakpus. Kenyataan berkata lain, pelanggannya bertambah, ia pun siap dipanggil ke mana saja sambil membawa laptop dan software lain. Cuma fokus jasa yang diorder sedikit berubah, bukan lagi mereparasi spidometer, namun memundurkan angka odometer alias jarak tempuh!
Masih ada Rusli-Rusli lain. OTOMOTIF sempat menyaksikan lewat cara cepat dan terlatih, sebuah sedan Eropa ber¬odometer 130 ribu km disulap jadi 30 ribu km saja. Rusli yang satu ini hanya perlu 10 menit membongkar cluster rumah spidometer-odemeter digital, lalu membawa ke minibusnya dan mereset ulang sesuai keinginan pemilik. Total hanya perlu 30 menit semua sudah rapi dan terpasang di dasbor lagi. Biayanya? “Untuk hatchback Eropa ini cuma Rp 650 ribu,” tambahnya.
Kalau merek Eropa lain harganya Rp 800 ribu – 1,2 juta, karena kunci kontak mesti diprogram ulang. Maksudnya, beberapa kunci kontak pintar selain sebagai immobilizer juga menyimpan data mobil. Kalau enggak disesuaikan mudah ketahuan nanti. Wah biayanya tergolong murah dibanding mobilnya yang ratusan juta rupiah.
Beda lagi dengan mobil Jepang yang tergolong lebih mudah. Mobil pasaran seperti Honda Jazz, jasanya dihargai sekitar Rp 750 ribu saja. “Seminggu bisa 5 mobil. Kebanyakan sih punya pedege,” tambah Rusli yang pernah gagal mengeksekusi sebuah SUV dan mem¬buat odometernya jadi angka nol semua.
Kisah Ujang lain lagi, pria ini kerap dapat orderan untuk odometer analog alias model angka putar. Ongkos “gulung nya” Rp 150 ribu saja. Kisah Rusli dan Ujang adalah fenomena dimana demand dan supply terjadi. Masyarakat masih silau akan odometer rendah dan membiarkan dirinya ditipu.
Kenali Tandanya
Banyak cara mengkenali hasil kerajinan tangan pada odometer. Jika mobil sudah terlanjur dibayar, segera cek ke bengkel resmi terdekat. Anggap saja Anda sekalian service dan mintakan data mobil Anda. Bagaimana jika enggak ada? Bisa jadi mobil Anda dulu enggan mampir ke bengkel ATPM.

Cara lain, sambangi bengkel non ATPM yang selalu merekam data mobil pelanggannya. “Kalau ganti oli, kami punya catatan odometer hingga 3 tahun ke belakang,” terang Tjahja Tandjung, dari toko oli TODA yang punya beberapa cabang di seputar Jakarta.
Selain itu, jarak tempuh yang dimainkan juga bisa dilacak lewat interkoneksi ECU dengan komputer bengkel. “Bisa dibaca lewat ECU-nya sendiri,” terang Amin dari BMW Prima, Jakut yang memasang tarif Rp 150 ribu untuk general check odometer plus bagian lain mobil.
Kondisi fisik mobil sendiri juga bisa cerita. Misalkan dengan membaca kode produksi sukucadang. Seperti Toyota Avanza  2008 dengan ban standar merek X diklaim baru jalan 30.000 km. Saat dicek bannya bermerek sama namun kode produksi 0409 alias minggu keempat 2009. Aneh kan? Bisa saja ban sudah diganti karena mobil sudah jalan 70 ribuan km. “Life time ban normalnya sekitar 40 ribu km,” terang Surya Dharma, bos EP-Tyres produsen ban Accelera.
Selain itu, bagian interior juga bisa dicermati. Misalnya busa jok yang mulai kempes, tapi bukan karena pemilik lama yang overweight ya. Lantas kain jok atau jok kulit yang sudah belel. Lanjutkan dengan setir yang lapisan kulitnya sudah mulai botak, pertanda jam terbang tinggi. Beberapa mobil Eropa, lapisan kulit setir malah bisa diputar-putar alias kendur sebagai patokan.
Murah Dan Aman
Menghindari kenakalan para penjual, Anda bisa melakukan antisipasi. Caranya mudah, cukup bawa ke bengkel authorized untuk general check-up sebelum transaksi dilakukan. Tak hanya cepat dan efektif, biaya¬nya juga cukup murah dibanding harga jual mobil yang bisa mencapai ratusan juta. Daripada menyesal belakangan toh!

ta servis kendaraan dan segala kerusakan pasti tersimpan di database bengkel, walau belum online ke beda jaringan. Misal jaringan Tunas Toyota sudah online seluruh cabang, tapi tidak online dengan jaringan Auto 2000. Itupun bukan hambatan berarti, service advisor biasanya tinggal telepon ke jaringan lain, dan data servis akan terbaca berdasarkan nomor polisi.
Sebelum transaksi dilakukan, bawa calon mobil ke bengkel untuk general check-up. Untuk Toyota Avanza biayanya berkisar Rp 110 ribu all-in. “Harga ini untuk pengecekan keseluruhan sistem mobil, mulai dari mesin, kaki-kaki, sampai bodi kalau konsumen minta,” tutur Marsono, service advisor Tunas Toyota cabang Cinere.
Beda tipis untuk kelas Kijang Innova yang Rp 121 ribu, dan Corolla Altis yang Rp 198 ribu. “General check-up menggunakan SDS (Star Diagnosis System) hanya Rp 200 ribu untuk segala jenis mobil,” terang Mumu Mulyadi, kepala bengkel Permorin yang beralamat di Jl. Kaji No.26, Jakpus.
Sama hal dengan Intelligent Tester di Toyota, lewat SDS, data servis kendaraan terbaca. Tapi cara mudah sebenarnya tinggal lihat buku servis. Buku tersebut memuat sejarah perbaikan mobil. Seandainya tidak ada, patut dicurigai kenapa data penting kendaraan tersebut bisa hilang.
Pada merek Mercedes-Benz, data servis terlihat melalui ECU. Tinggal colok SDS, sejarah awal hingga data terbaru dapat terdeteksi. Kalaupun pernah ganti instrument cluster, data odometer masih terlihat di ECU pusat. Kecuali sang penjual niat sampai mengganti modul ECU yang berharga sangat mahal. Hanya saja balik lagi ke service record, data servis pasti tersimpan di database bengkel.
Beda Model Lain Metode
Ada dua metode memundurkan odo¬meter, yang pertama buat tipe analog lebih secara manual. Yaitu mencongkel roda digit dari balik penampang spidometer. Namun begitu, ada resikonya. Seperti roda digit mudah nyangkut. Misal angka menunjukkan 43 ribu, akan dimundurkan jadi 13 ribu.
Setelah dimundurkan, kemungkinan tak terjadi masalah. Tapi saat hendak beranjak ke angka 40 ribu, pada posisi 39.999, angka nyangkut di sini. Pasalnya ada kombinasi gir pada setiap roda digitnya. Misal pada Toyota Avanza, kombinasi gir berukuran besar-kecil-kecil-besar.

Cara lain, dibongkar dan disusun kembali sesuai angka yang diinginkan. Tapi, butuh waktu lebih lama dan harus lebih teliti. Menurut Vincent dari spesialis servis spidometer SACS di Pondok Gede, Bekasi, tetap bisa angka lompat/nyangkut.
“Saat kecepatan ren¬dah memang tidak bermasalah. Tapi dalam kecepatan tinggi, dinamo odometer bisa terbakar,” papar pria yang tidak menerima order mengurangi angka odometer ini.
Ciri odometer analog pernah dimundurkan, pakai cara dicongkel/dipaksa dengan obeng, bisa dilihat dari roda digit pertama (ratusan ribu) dan kedua (puluhan ribu). Jika terlihat ada baret atau guratan, berarti odometer sudah pernah dimundurkan.
Odometer digital lebih sulit dikenali. Pasalnya harus terlebih dulu mencabut panel odometer¬nya (versi lawas). Cara memundurkannya dengan mereset ulang pada IC (berkaki 8) yang merupakan tempat menyimpan memori. Untuk IC model laba-laba (versi baru), cukup dijumper saat meresetnya.
Namun pada beberapa mobil baru seperti Innova, Swift, SX4, Yaris versi digital, sangat riskan untuk membongkarnya. Lantaran perlu membuka jarum terlebih dulu. Kondisi ini memungkinkan penampang spidometer tersentuh sidik jari. Dari bekas sidik jari yang tampak mengilap itulah, bisa ditengarai kalau odometer pernah dibongkar/dimundurkan. Apalagi sidik jarinya enggak bisa dihapus pakai cara apapun.
Cara lain untuk mendeteksi, apakah odometer digital pernah dibongkar atau belum, bisa dilihat dari penampang PCB bagian belakangnya. Jika terdapat solderan agak tebal pada kaki-kaki IC atau rangkaian sirkuit di PCB-nya, sudah bisa dipastikan odometer sudah pernah direset.
Pada beberapa tipe mobil, odometernya ada yang dapat direset melalui anak kunci kontak, yang sudah bertipe immobilizer. Sebab sudah dilengkapi chip yang berfungsi sebagai penyimpan data di dalamnya. Biaya mereset pada anak kunci sekitar Rp 1 jutaan, sementara ongkos memundurkan odometer dari panel spidometer sekitar Rp 600 ribuan.